Ciri-ciri fisik: Panjang tubuh
dewasa sekitar 100 – 150 cm, badan coklat dengan corak gambar membentuk
oval tak beraturan, membesar diperut dan mengecil ke ekor serta
leherjantan lebih besar dari pada betina, kepalanya berbentuk segi tiga,
mempunyai lubang sensor panas di antara mata dan lubang pernafasan.
Habitat: Semak-semak daun kering, ladang pertanian,
persawahan, daerah bebatuan, atau padang rumput pd ketinggian sampai
2000 m dpl.
Makanan: Kadal,
katak, tikus atau mamalia kecil lainnya.
Kebiasaan: Nocturnal (aktif pada malam hari), mulai
aktif pada sore hari, menangkap mangsa dengan cara menyergap (ambush),
jika merasa terganggu akan cenderung diam dari pada melarikan diri dan
akan mengeluarkan suara (hissing) yg sangat keras dengan di barengi dgn
posisi siaga (“S” shape) mulai dari leher ke kepala. serangannya sangat
cepat dan luka gigitan sangat dalam.
Tipe gigi: Solenoglypha (taring bisa dapat dilipat).
Racun dominan: Hemotoxin (menyerang sel darah)
Efek pada luka gigitan: Sakit, bengkak, memar, terasa
panas.
Efek racun pada tubuh:
Sakit kepala, pusing, mual, muntah, sakit pada perut, pendarahan,
pingsan.
Efek klinis: Berpotensi
mematikan, tingkat kematian karena tidak tertolong sekitar 10 – 20%
No comments:
Post a Comment